LEGEND.jpg
Compile Kernel FREEBSD
Written by Guruh   
Monday, 25 August 2008
Dalam proses server development, hal terpenting yang dilakukan pertama kali setelah proses instalasi adalah compile kernel. Karena dengan melakukan compile kernel kita dapat meng-optimalkan kinerja OS yang kita gunakan. Kita hanya menggunakan konfigurasi sistem yang memiliki keterkaitan module antara yang satu dengan yang lainnya. Kita mulai aja ya konfigurasinya:


Step 1:
Masuk ke direktori : /usr/src/sys/ i386/conf/ untuk membuka file kernel GENERIC FreeBSD.
Copy file tersebut ke sebuah nama lain yang akan dijadikan identification name kernel.
Berikut contoh konfigurasi kernel dari salah satu server yang saya miliki :

machine i386
#cpu I486_CPU

#cpu I586_CPU

cpu I686_CPU

ident ANACONDA


#PF Firewall

device pf
device pflog

device pfsync
options ALTQ

#Options for queue Squid
options SYSVMSG
options MSGMNB=8129
options MSGMNI=40
options MSGSEG=512
options MSGSSZ=64
options MSGTQL=2048

#Shared Memory
options
SHMMAX=2097152

options SHMMIN=1
options SHMMNI=32
options SHMSEG=16
options SHMALL=4096

# To statically compile in device wiring instead of /boot/device. hints

#hints "GENERIC.hints"
# Default places to look for devices.
makeoptions DEBUG=-g
# Build kernel with gdb(1) debug symbols


options SCHED_ULE # ULE scheduler

options SCHED_4BSD # 4BSD scheduler

options PREEMPTION # Enable kernel thread preemption
options INET # InterNETworking

#options INET6 # IPv6 communications protocols

options FFS # Berkeley Fast Filesystem

Step 2 :

#config ANACONDA

#cd ../compile/ANACONDA /

#make cleandepend

#make depend

#make

#make install

Kalau sudah selesai, reboot FreeBSD kemudian ketik:

#uname -a

 

Maka akan tampil:

FreeBSD mail-sp.net 5.0-RELEASE FreeBSD 5.0-RELEASE #2: Thu Jan 11 18:07:39 UTC 2005 master@mail- sp.net:/usr/ src/sys/i386/ compile/ANACONDA i386

Lebih gampang dari compile kernel Linux kan..?
Last Updated ( Monday, 25 August 2008 )
 
Peresmian Bengkel TI SOS Desa Taruna Jakarta
Written by Administrator   
Sunday, 27 July 2008

Alhamdulillah, acara sosialisasi membangun komunitas TI di SOS Desa Taruna Jakarta berlangsung dengan lancar. Sebagian peserta yang masih pelajar SD-SMP sangat antusias mengikuti acara ini. Bahkan mereka sempat beberapa kali melongok “Bengkel TI” yang menjadi markas kami berkumpul sebelum acara dimulai. Tak seperti yang dikira, anak-anak itu sangat besar keingintahuannya dan juga keinginan mencoba komputer yang ada. Acara dimulai tepat pukul dua siang dengan pemberian motivasi mengenai contoh-contoh pekerjaan di dunia TI yang dapat dijadikan cita-cita baru oleh mereka. Kemudian dilanjutkan dengan pengetahuan mengenai apa itu “TI” , tujuan serta manfaatnya bagi kehidupan kita. Diselingi dengan demo menarik berupa film animasi membuat peserta tidak merasa bosan. Ada juga pembahasan mengenai pemanfaatan internet dalam pendidikan. Misalnya saja dalam mencari jawaban dari hal yang belum diketahui, seperti nama-nama penemu benda di seluruh dunia dan lain sebagainya. Juga demo belajar bahasa Inggris melalui internet. Hal ini perlu diberitahukan agar mereka dapat memanfaatkan teknologi internet dengan baik. Mengingat kebanyakan anak-anak seusia mereka hanya menggunakan internet untuk bermain game saja. Acara ini juga dihadiri oleh Bapak dan Ibu pengurus Yayasan. Bapak Sutoyo, Bapak susilo, Ibu Nuning, Mbak Kristin juga Ibu Maria.

Tujuan dari acara ini adalah untuk memperkenalkan kepada anak-anak penghuni SOS Desa Taruna akan kegiatan baru ”Bengkel TI”. Kegiatan ini berupa belajar komputer secar reguler sekali seminggu untuk tiap tingkatan (SD,SMP, SMA). Selain pelajaran reguler juga dijadwalkan adanya workshop komputer. Materi yang diajarkan mencakup hampir semua bidang keahlian di TI mulai perkaitan, instalasi, Web Desain, Desain Grafis, Pengenalan Jaringan, Pengenalan Sistem Operasi dan Pengenalan Pemrograman. Dari sini diharapkan anak-anak dapat memiliki keahlian tertentu dan juga mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Serta dapat memiliki komunitas TI tersendiri yang dimulai dari SOS Desa Taruna Jakarta. Kegiatan ini juga akan dilakukan di cabang SOS Desa Taruna lainnya di Indonesia. Berminat menjadi pengajar??? Hubungi kami!!

Last Updated ( Sunday, 27 July 2008 )
Read more...
 
Linux, Migrasi Dan Tantangannya
Written by Vina Maysari   
Sunday, 27 July 2008

Pada banyak perusahaan industri dunia, migrasi dari Windows ke Linux merupakan suatu solusi yang pas untuk terbebas dari lisensi. Beberapa alasan dari mereka mengatakan bahwa Linux memiliki  stabilitas and reliabilitas yang sangat bagus, sistem real-time dan fleksibel, selain harganya murah, juga dapat didistribusikan bahkan dikembangkan, mempunyai tingkat  security yang sangat baik, serta baik juga untuk referensi bagi perkembangan industri dan masyarakat umum.

Proyek RTLOpen atau Open Real-Time Linux mengembangkan sistem Linux real-time guna menyediakan solusi yang lebih aman dengan biaya lebih rendah dibandingkan solusi yang umum saat ini untuk industri mesin perkakas. Proyek ini  mendapat dukungan pemerintah Jerman dan telah mendapatkan kucuran dana inovasi sebesar 1,125 juta Euro. Pengembangannya telah dimulai sejak bulan Januari 2004 dan dirampungkan bulan Desember 2006.

Namun lain halnya dengan perusahaan industri di Indonesia, cenderung takut berspekulasi untuk migrasi menuju open source. Tidak hanya perusahaan industri bahakan departemen pemerintahannya pun  masih  banyak menggunakan perangkat lunak yang bersifat proprietary.  Mereka enggan untuk beralih ke perangkat lunak open source. Alasan yang sering dikemukakan tidak lain karena sulitnya untuk melakukan perubahan dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat lunak proprietary, apalagi harus berkompromi ulang terhadap kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. 

Misalnya saja seperti yang dirasakan oleh seorang pengelola beberapa warnet di Depok, mengatakan bahwa sulit untuk melakukan perubahan dari proprietary software ke OSS. Ia mengaku bahwa seluruh warnet miliknya sempat beralih ke Linux.selama enam bulan semenjak gencarnya aksi sweeping perangkat lunak bajakan ketika itu. “Butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi menggunakan Linux belum lagi biaya pelatihan Linux untuk para karyawannya”, kilah bapak yang tidak ingin ditulis identitasnya. Selain itu, banyak dari pelanggannya yang berkeluh-kesah terhadap kerumitan-kerumitan yang tidak dimengerti dan akhirnya harus kehilangan pelanggan-pelanggan setianya yang kebanyakan adalah para pelajar SMP-SMA dan masyarakat biasa. Sehingga beliau merasakan banyak kerugian yang timbul akibat dari perubahan dan terpaksa harus kembali menggunakan perangkat lunak proprietary yang biasanya digunakan untuk menarik pelanggan-pelanggannya.  “Tidak masalah bagi saya untuk membayar lisensi daripada harus mengalami kerugian yang sangat banyak”, sembari tersenyum memperlihatkan sertifikasi lisensi yang telah didapatkannya. Tentunya dengan catatan lisensi tersebut didapatkan dengan harga terjangkau ditambah dengan menaikkan harga rental warnet tersebut.

Melihat kenyataan tersebut, perlu lebih dari sekedar kerja keras untuk mensosialisasikan OSS kepada masyarakat pada umumnya. Keunggulan OSS yakni terletak pada sifatnya yang free dan boleh bebas dikembangkan oleh siapa saja. Namun dua hal tersebut tidak cukup untuk menarik masyarakat awam untuk menggunakan OSS. Harus ada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak demi mendukung program Indonesia Go Open Source (IGOS). Munculnya banyak distribusi Linux baru dengan menawarkan berbagai kemudahan, tentunya harus dibarengi dengan sosialisasi bahwa Linux sekarang ini sama saja atau semudah mereka menggunakan perangkat lunak proprietary , dalam hal ini Windows. Disinilah komunitas Linux harus bergerak, misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Kuplug mereka yang memiliki program rutin seminar OSS gratis  di kampus maupun sekolah tingkat menengah. Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang hangat dari sekolah-sekolah yang mereka kunjungi. “ Kami memang menggratiskan acara ini dengan harapan memudahkan kami dalam hal perizinan penyelenggaraan kegiatan dan tentunya agar banyak yang mengikuti acara ini ”, jelas sang Ketua Panitia saat sela acara seminar di SMAN 39 Jakarta Timur.   “Karena semakin banyak yang kenal linux maka diharapkan akan makin banyak yang mau mencobanya” tambahnya. Untuk itu komunitas yang lahir pada tahun 2002 ini selalu berusaha menyuguhkan seminar dengan demonstrasi open source software yang menarik. Bahkan mereka merasa amat senang dan terbantu bila diundang untuk mengisi seminar di instansi manapun.

Linux tidaklah sulit namun juga tidak mudah, tergantung siapa yang menggunakan dan apakah mau belajar mencoba hal yang baru “Ternyata Linux itu mudah, menarik dan sama saja dengan Windows”, demikian respon seorang peserta yang juga berstatus pelajar SMA ini. Cuma bedanya, Linux itu gratis tanpa harus membajak.

Keduanya contoh kasus (di Indonesia) diatas dapat dijadikan studi perbandingan untuk para pemula yang akan melakukan migrasi dari Windows ke Linux, ataupun sebaliknya. Bagi pihak yang memilih untuk melakukan perubahan dari Windows ke Linux beranggapan bahwa perubahan yang dilakukannya bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak perlu takut terhadap hak kekayaan intelektual, apalagi merasa berdosa harus melakukan pembajakan terhadap produk-produk yang tidak mampu dirogoh dengan uang saku sendiri. Berbeda dengan pihak yang memilih untuk kembali menggunakan Windows dan atau tetap menggunakan Windows. Mereka harus memilih ini karena takut akan kehilangan apa yang telah didapatkan, dan butuh proses yang panjang atau boleh dikatakan sangat lama untuk mengenal dan beradaptasi dengan hal yang baru ini. Mungkin hal ini membutuhkan keterampilan dari orang-orang yang mau bersukarela terjun langsung membantu masyarakat umum, yang mempunyai keiginan bebas mengembangkan diri dan usahanya, untuk mengenal dan menggunakan open source.

Dengan adanya contoh dari pemerintahan Jerman, semoga pemerintah Indonesia turut memberi dukungan terhadap dunia open source. Karena perubahan tidak akan sukses tanpa ada dukungan dari pemimpin yang dicontohnya.

 

 

Sumber:

http://europa.eu.int/idabc/en/document/4366/499

wawancara

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>

Results 1 - 4 of 13

Who's Online

We have 1 guest online