|
Pada banyak perusahaan industri dunia, migrasi dari Windows ke Linux merupakan suatu solusi yang pas untuk terbebas dari lisensi. Beberapa alasan dari mereka mengatakan bahwa Linux memiliki stabilitas and reliabilitas yang sangat bagus, sistem real-time dan fleksibel, selain harganya murah, juga dapat didistribusikan bahkan dikembangkan, mempunyai tingkat security yang sangat baik, serta baik juga untuk referensi bagi perkembangan industri dan masyarakat umum. Proyek RTLOpen atau Open Real-Time Linux mengembangkan sistem Linux real-time guna menyediakan solusi yang lebih aman dengan biaya lebih rendah dibandingkan solusi yang umum saat ini untuk industri mesin perkakas. Proyek ini mendapat dukungan pemerintah Jerman dan telah mendapatkan kucuran dana inovasi sebesar 1,125 juta Euro. Pengembangannya telah dimulai sejak bulan Januari 2004 dan dirampungkan bulan Desember 2006. Namun lain halnya dengan perusahaan industri di Indonesia, cenderung takut berspekulasi untuk migrasi menuju open source. Tidak hanya perusahaan industri bahakan departemen pemerintahannya pun masih banyak menggunakan perangkat lunak yang bersifat proprietary. Mereka enggan untuk beralih ke perangkat lunak open source. Alasan yang sering dikemukakan tidak lain karena sulitnya untuk melakukan perubahan dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat lunak proprietary, apalagi harus berkompromi ulang terhadap kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Misalnya saja seperti yang dirasakan oleh seorang pengelola beberapa warnet di Depok, mengatakan bahwa sulit untuk melakukan perubahan dari proprietary software ke OSS. Ia mengaku bahwa seluruh warnet miliknya sempat beralih ke Linux.selama enam bulan semenjak gencarnya aksi sweeping perangkat lunak bajakan ketika itu. “Butuh waktu yang cukup lama untuk beradaptasi menggunakan Linux belum lagi biaya pelatihan Linux untuk para karyawannya”, kilah bapak yang tidak ingin ditulis identitasnya. Selain itu, banyak dari pelanggannya yang berkeluh-kesah terhadap kerumitan-kerumitan yang tidak dimengerti dan akhirnya harus kehilangan pelanggan-pelanggan setianya yang kebanyakan adalah para pelajar SMP-SMA dan masyarakat biasa. Sehingga beliau merasakan banyak kerugian yang timbul akibat dari perubahan dan terpaksa harus kembali menggunakan perangkat lunak proprietary yang biasanya digunakan untuk menarik pelanggan-pelanggannya. “Tidak masalah bagi saya untuk membayar lisensi daripada harus mengalami kerugian yang sangat banyak”, sembari tersenyum memperlihatkan sertifikasi lisensi yang telah didapatkannya. Tentunya dengan catatan lisensi tersebut didapatkan dengan harga terjangkau ditambah dengan menaikkan harga rental warnet tersebut. Melihat kenyataan tersebut, perlu lebih dari sekedar kerja keras untuk mensosialisasikan OSS kepada masyarakat pada umumnya. Keunggulan OSS yakni terletak pada sifatnya yang free dan boleh bebas dikembangkan oleh siapa saja. Namun dua hal tersebut tidak cukup untuk menarik masyarakat awam untuk menggunakan OSS. Harus ada kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak demi mendukung program Indonesia Go Open Source (IGOS). Munculnya banyak distribusi Linux baru dengan menawarkan berbagai kemudahan, tentunya harus dibarengi dengan sosialisasi bahwa Linux sekarang ini sama saja atau semudah mereka menggunakan perangkat lunak proprietary , dalam hal ini Windows. Disinilah komunitas Linux harus bergerak, misalnya saja seperti yang dilakukan oleh Kuplug mereka yang memiliki program rutin seminar OSS gratis di kampus maupun sekolah tingkat menengah. Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang hangat dari sekolah-sekolah yang mereka kunjungi. “ Kami memang menggratiskan acara ini dengan harapan memudahkan kami dalam hal perizinan penyelenggaraan kegiatan dan tentunya agar banyak yang mengikuti acara ini ”, jelas sang Ketua Panitia saat sela acara seminar di SMAN 39 Jakarta Timur. “Karena semakin banyak yang kenal linux maka diharapkan akan makin banyak yang mau mencobanya” tambahnya. Untuk itu komunitas yang lahir pada tahun 2002 ini selalu berusaha menyuguhkan seminar dengan demonstrasi open source software yang menarik. Bahkan mereka merasa amat senang dan terbantu bila diundang untuk mengisi seminar di instansi manapun. Linux tidaklah sulit namun juga tidak mudah, tergantung siapa yang menggunakan dan apakah mau belajar mencoba hal yang baru “Ternyata Linux itu mudah, menarik dan sama saja dengan Windows”, demikian respon seorang peserta yang juga berstatus pelajar SMA ini. Cuma bedanya, Linux itu gratis tanpa harus membajak.
Keduanya contoh kasus (di Indonesia) diatas dapat dijadikan studi perbandingan untuk para pemula yang akan melakukan migrasi dari Windows ke Linux, ataupun sebaliknya. Bagi pihak yang memilih untuk melakukan perubahan dari Windows ke Linux beranggapan bahwa perubahan yang dilakukannya bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak perlu takut terhadap hak kekayaan intelektual, apalagi merasa berdosa harus melakukan pembajakan terhadap produk-produk yang tidak mampu dirogoh dengan uang saku sendiri. Berbeda dengan pihak yang memilih untuk kembali menggunakan Windows dan atau tetap menggunakan Windows. Mereka harus memilih ini karena takut akan kehilangan apa yang telah didapatkan, dan butuh proses yang panjang atau boleh dikatakan sangat lama untuk mengenal dan beradaptasi dengan hal yang baru ini. Mungkin hal ini membutuhkan keterampilan dari orang-orang yang mau bersukarela terjun langsung membantu masyarakat umum, yang mempunyai keiginan bebas mengembangkan diri dan usahanya, untuk mengenal dan menggunakan open source. Dengan adanya contoh dari pemerintahan Jerman, semoga pemerintah Indonesia turut memberi dukungan terhadap dunia open source. Karena perubahan tidak akan sukses tanpa ada dukungan dari pemimpin yang dicontohnya.
Sumber: http://europa.eu.int/idabc/en/document/4366/499 wawancara |